Manfaat dan Hikmah Tauhid Uluhiyah Dalam Diri Seseorang

Manfaat dan Hikmah Tauhid Uluhiyah Dalam Diri Seseorang~ manfaat.info, sahabat yang bermanfaat, kali ini admin akan berbagi artikel tentang agama islam dengan sub bahasan Tauhid, Artikel admin rewrite dari berbagai sumber untuk menjadi bahan belajar kita terutama untuk seorang pelajar yang sedang memperdalam ilmu agama islam. Tauhid adalah Rukun Iman pertama dalam Islam , karena dengan ketauhidan kita kepada Allah barulah kita dikatakan sebagai hamba Allah yang menjalankan keislaman. dengan kata lain Tauhid adalah pondasi utama sebagai seorang muslim. untuk mengenal tentang Tauhid, apa manfaat tauhid, apa hikmah yang di dapat dari tauhid bagi diri kita atau bagi seorang pelajar yang sedang menimba ilmu keislaman untuk selengkapnya kalian dapat membacanya secara lengkap di artikel di bawah ini :
Manfaat dan Hikmah Tauhid Uluhiyah Dalam Diri Seseorang

3 Tingkatan Tauhid

Tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Ulluhiyyah dan Tauhid Asma’dan Sifat.

Tauhid rububiyah

Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala perbuatan-Nya, seperti menciptakan dan mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya dan manfaat, memberi rizqi dan semisalnya. Allah Ta’alaberfirman

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Q.S. Al-Fatihah : 1)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid uluhiyah

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam ibadah, seperti berdoa, bernadzar, berkurban, shalat, puasa, zakat, haji dan semisalnya. Allah Ta’ala berfirman

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 163)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari, “Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

Tauhid asma’ was shifat

Tauhid asma’ was shifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang telah disifati oleh Allah untuk diri-Nya di dalam Al-Quran atau yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam As-Sunnah yang shahih tanpa takwil (menyelewengkan makna), tanpa tafwidh (menyerahkan makna), tanpa tamtsil (menyamakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil.
Allah Ta’ala berfirman :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Asy-Syuura : 11)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah. Ahlussunnah hanya mengimani bahwa Allah memang turun ke langit dunia. Tapi tidak membahas hakikat bagaimana Allah turun apalagi menyamakan turunnya Allah dengan turunnya makhluk.

Ubudiyah

Yang dimaksud dengan ubudiyah adalah hal penyembahan kepada Allah. Tidak ada yang lain yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang wajib disembah (dipuja), tanpa sekutu dalam pemujaan-Nya.
Allah berfirman ;

 “ iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in(u) ”

hanya kepada Engkau-lah (Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan. (Quran surat Al-Fatihah: 5).

Manfaat Tauhid Uluhiyah Bagi Kehidupan kita

  1. Sebagai sumber dan motivator perbuatan kebajikan dan keutamaan;
  2. Membimbing manusia ke jalan yang benar, sekaligus mendorong mereka untuk mengerjakan ibadah dengan penuh keikhlasan;
  3. Mengerluarkan jiwa manusia dari kegelapan, kekacauan, dan kegoncangan hidup yang dapat menyesatkan;
  4. Mengantarkan umat manusia kepada kesempurnaan lahir dan batin

Hikmah atau hal-hal positif yang kita peroleh setelah memiliki Tauhid Uluhiyah

  • Memiliki komitmen utuh pada Tuhannya.
  • Menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah.
  • Bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan faham hidupnya.
  • Tujuan hidupnya jelas. Ibadatnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya hanyalah untuk Allah semata-mata.
  • Memiliki visi jelas tentang kehidupan yang harus dibangunnya bersama-sama manusia lain; suatu kehidupan yang harmunis antara manusia dengan Tuhannya, dengan lingkungan hidupnya, dengan sesama manusia dan dengan dirinya sendiri.

Manfaat dari mempelajari ilmu tauhid Secara menyeluruh

1. Menjalankan tujuan hidup yang sebenarnya

Allah menciptakan manusia tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

2. Mendapat surga

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

    “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28)

Dalam sebuah riwayat Al Hasan pernah berkata kepada Al Farazdaq, ketika ia sedang menguburkan istrinya:

ما أعددتَ لهذا اليوم ؟ قال : شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة، فقال الحسن : “نعم العدة لكن لـِ « لا إله إلا الله » شروطاً ؛ فإياك وقذف المحصنات

    “apa yang engkau persiapkan untuk hari ini (hari kematianmu kelak)? Al Farazdaq berkata: syahadat Laa ilaaha illallah sejak 70 tahun yang lalu. Lalu Al Hasan berkata: iya benar, itulah bekal. Namun Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat. Maka hendaknya engkau jauhi perbuatan menuduh zina wanita yang baik-baik“ (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 3/47).
Wahab bin Munabbih rahimahullah ditanya, “bukanlah kunci surga itu adalah Laa ilaaha illallah?”, ia menjawab:

بلى ؛ ولكن ما من مفتاح إلا له أسنان ، فإن أتيت بمفتاح له أسنان فُتح لك ، وإلا لم يُفتح لك ” ، يشير بالأسنان إلى شروط «لا إله إلا الله» الواجب التزامها على كل مكلف

    “iya benar, namun setiap kunci itu pasti ada giginya. Jika engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka akan terbuka. Namun jika tidak ada giginya, maka tidak akan terbuka“.

3. Diberikan kecukupan dunia dan akhirat

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Rasul bersabda,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

    “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung kepada manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

4. Syarat diterimanya amalan

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

    “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen.). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:201-202)

5. Jauh dari dosa besar

Salah satu dosa besar dan tidak terampuni dalam Islam adalah dosa syirik. Dengan mempelajari ilmu tauhid, maka kita akan terhindar dari dosa besar tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

    “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).

Pentingnya tauhid uluhiyyah

Tujuan diciptakannya jin dan manusia

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Q.S.Adz-zariyaat/51:56 : 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ  

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Ibadah yang dimaksud disini adalah mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. 

Tujuan diutusnya para nabi dan rasul. Allah berfirman dalam Q.S.Al-Nahl/16:36:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى ڪُلِّ أُمَّةٍ۬ رَّسُولاً أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّـٰغُوتَ‌ۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ‌ۚ فَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ    

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut  itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul”.  

 Tauhid merupakan dakwah para rasul, mereka tidak diutus kecuali untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala.

Tauhid uluhiyyah merupakan asas diterimanya semua amal seorang hamba

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman dalam Q.S.Al-An’am/6:88 : 

.. وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  

"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. 

Sekalipun seorang hamba shalat, puasa dan berjihad atau ibadah lainnya kalau tidak bertauhid kepada Allah ta’āla, maka semua amalnya tidak diterima. 

Tauhid uluhiyyah yang paling pertama ditanya di dalam kubur

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Dardā bahwa apabila seseorang telah dikubur maka didatangi oleh dua malaikat yang bertanya tentang “man robbuka, wa mā dīnuka,wa man nabiyyuka” (siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu). Maksud dari pertanyaan kedua malaikat “man robbuka” adalah “man ma’būdaka” (siapa sembahanmu?) yang menanyakan tentang tauhid uluhiyah, karena manusia tidak ditanya tentang tauhid rububiyyah sebab iblis adalah makhluk yang paling kafir masih mengakui tauhid rububiyah. 

Isi al-Quran semuanya tentang tauhid 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa isi al-Qur’an semuanya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi Al-Qur’an menjelaskan hal-hal berikut: 

Berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini adalah termasuk tauḥīdul ‘ilmi al-khabarī (termasuk di dalamnya tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat). 

Seruan untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini adalah tauḥīdul irādā al-ṭalabī (tauhid uluhiyyah). 

Berisi perintah dan larangan serta keharusan untuk taat dan menjauhi larangan. Hal-hal tersebut merupakan huqūqu al-tauḥīd wa mukammilatuhu (hak-hak dan penyempurna tauhid). 

Berita tentang kemuliaan orang yang bertauhid, tentang balasan kemuliaan di dunia dan balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk jazā’u al-tauḥīd (balasan bagi ahli tauhid). 

Berita tentang orang-orang musyrik, tentang balasan berupa siksa di dunia dan balasan azab di akhirat. Ini termasuk balasan bagi yang menyelisihi hukum tauhid. Dengan demikian, al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya. Selain itu juga berisi tentang kebalikan dari tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang musyrik, dan balasan bagi mereka. 
Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf dari sisi mempelajari, mengkaji, memahami, mengamalkan dan mendakwahkannya. 

Tidak seperti yang dikatakan pelaku bid’ah yang mengatakan bahwa: kewajiban pertama adalah berfikir dan ragu. Dalilnya adalah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam  kepada Muadż bin jabal, ”wa al-yakun awwalu mā tad’uhum ilaihi syahādatu lā ilāha illā allahu” yang artinya “Hendaklah yang paling pertama engkau serukan adalah persaksian bahwa tiada ilah yang hak selain Allah” 
Sesungguhnya mengucapkan kalimat tauhid “lā ilāha illā allāh” adalah pintu pertama seseorang untuk masuk Islam. Seseorang tidak dikatakan masuk Islam kecuali dengan tauhid. Meskipun dia puasa atau menunaikan haji namun jika tidak mengucapkan kalimat ikhlas “lā ilāha illā allāh” maka dia tidak dapat ditetapkan iman dan islamnya, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi: “ umirtu an uqātila al-nāsa hattā yaqūlū lā ilāha illā allāhu“, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan “lā ilāha illā allāhu.”  

Sesungguhnya tauhid merupakan asas diterimanya semua amal seorang hamba. Sekalipun seseorang melakukan shalat atau ibadah lainnya,namun jika tidak bertauhid kepada Allah, maka semua amalnya tidak diterima bagaikan debu yang beterbangan, Allah Subhanahu wata’ala  berfirman dalam Q.S.Azzumar/39:65.

لَئِن أَشرَكتَ لَيَهبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ
             “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” 

Tidak diragukan bahwa syirik merupakan lawan tauhid dan tidak akan berkumpul selamanya. 

Manusia membutuhkan tauhid di atas segala kebutuhan. Tuntutannya di atas segala tuntutan, karena tidak ada kehidupan, kenikmatan dan ketenangan hati kecuali dengan mengenal Rabbnya yang dia sembah dan menciptanya, mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. 

Seorang yang bertauhid adalah orang yang hidup dengan kehidupan yang hakiki berbeda dengan orang musyrik. Karena itu Allah Subhanahu wata’ala mengumpamakan orang yang tidak bertauhid dengan mayat, Allah berfirman dalam Q.S. Al-an’am/6:122. 
أَوَمَن كَانَ مَيۡتً۬ا فَأَحۡيَيۡنَـٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُ ۥ نُورً۬ا يَمۡشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ ۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٍ۬ مِّنۡہَا‌ۚ كَذَٲلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَـٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.  

Yang dimaksud dengan kehidupan disini adalah kehidupan hati dengan tauhid dan iman. 

Tauhid sebagai ruh dan cahaya. 

Sebagai pedoman bagi kehidupan hakiki karena tauhid menerangi jalan pengikutnya, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik kepada cahaya iman, Allah berfirman dalam  Q.S.Al-Mu’min/40:15.  
رَفِيعُ ٱلدَّرَجَـٰتِ ذُو ٱلۡعَرۡشِ يُلۡقِى ٱلرُّوحَ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ لِيُنذِرَ يَوۡمَ ٱلتَّلَاقِ (١٥ 

"Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ’Arsy, Yang mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan  hari kiamat".  


Allah berfirman dalam Q.S. Asy-syuura/42:52-53. 

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا‌ۚ وَإِنَّكَ لَتَہۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ .صِرَٲطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ  

وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ  

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu [al-Qur’an] dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab [Al Qur’an] dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (52) [Yaitu] jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan. (53).” 

Maka, tidak ada ruh kecuali apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam  dan tidak ada cahaya kecuali dengan mencari penerang dibawah petunjuknya. 

Tauhid adalah ibadah yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang hamba walau sekejap.

Dibutuhkan pada siang dan malam, saat hidup dan kematian, bahkan tauhid harus selalu menyertainya dalam semua kondisi. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti sholat, puasa dan lainnya yang harus dilaksanakan pada waktunya masing-masing, jika seorang hamba telah melaksanakannya, dia tidak dituntut lagi hingga datang waktu berikutnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala  Q.S. Al-An’ām/6:162. 
(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢


Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadat, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, "

Maka kehidupan seluruhnya, malam maupun siang, saat safar maupun menetap, sehat atau sakit harus diarahkan kepada Allah semata. 

Tauhid merupakan perkara yang harus dibawa seorang muslim di akhir kehidupannya di dunia ini. 

Selamat bagi mereka yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid dan ikhlas, karena hal tersebut mendatangkan pahala yang sangat besar dan akhir kehidupan yang baik. Abu Daud meriwayatkan dari Muadz ra dari Rasulullah saw beliau bersabda: 
مَنْ كَانَ آخٍرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيا : لا إِلهَ الا اللهُ ، دَخَلَ الجنةَ " 

"Siapa yang akhir ucapannya di dunia : laa ilaaha illallah, dia masuk syurga” 

Betapa banyak kaum muslimin yang tidak dapat  mengatakan laa ilaaha illallah ketika ajalnya tiba, padahal ketika sehat mereka dapat mengucapkannya. Hal tersebut mungkin karena kemaksiatannya atau masih ada unsur kesyirikan padanya. Adapun pemilik tauhid yang murni, maka Allah akan memudahkan mereka untuk mengucapkannya dan lunakkan lisannya ,serta teguhkan mereka dengan ucapan yang meneguhkan dalam kehidupan dunia dan akhirat. 

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memohon kepada Rabb-Nya agar kehidupan

Sumber artikel :
https://www.dosenpendidikan.co.id/tauhid-adalah/
https://wahdahmakassar.or.id/artikel/pentingnya-tauhid-uluhiyah
https://dalamislam.com/landasan-agama/tauhid/manfaat-mempelajari-ilmu-tauhid

Demikianlah artikel tentang Manfaat dan Hikmah Tauhid Uluhiyah Dalam Diri Seseorang, semoga bermanfat

Tidak ada komentar untuk "Manfaat dan Hikmah Tauhid Uluhiyah Dalam Diri Seseorang"